{"id":15062,"date":"2026-04-01T00:34:13","date_gmt":"2026-04-01T00:34:13","guid":{"rendered":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/?p=15062"},"modified":"2026-04-01T00:38:01","modified_gmt":"2026-04-01T00:38:01","slug":"hubungan-banjir-dengan-perubahan-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/hubungan-banjir-dengan-perubahan-iklim\/","title":{"rendered":"Hubungan Banjir dengan Perubahan Iklim"},"content":{"rendered":"\n<p>Banjir semakin aneh.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia bisa datang setelah hujan yang terasa \u201cbelum lama-lama amat\u201d. Ia bisa membuat jalan raya berubah jadi sungai kecil. Ia bisa membuat orang bertanya-tanya: kok sekarang air terasa lebih cepat naik? Mungkin karena yang berubah memang bukan cuma kota kita. Bukan cuma sungainya. Bukan cuma salurannya. Yang ikut berubah adalah cara hujan datang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dulu, orang lebih mudah membaca musim. Paling tidak, ada rasa familiar: kapan mulai hujan, kapan biasanya deras, kapan sungai harus diwaspadai. Sekarang rasa itu makin goyah. Di banyak tempat, hujan terasa lebih sulit ditebak. Kadang lama tidak turun. Lalu sekali datang, seperti ditumpahkan sekaligus.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sinilah pembicaraan tentang perubahan iklim menjadi penting. Bukan karena semua banjir otomatis harus disalahkan pada perubahan iklim. Bukan juga karena istilah itu sedang populer. Tetapi karena ilmu iklim memang menunjukkan bahwa dunia yang lebih hangat membuat hujan ekstrem menjadi semakin perlu diwaspadai, dan itulah salah satu pintu masuk utama menuju banjir.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bukan Sekadar Hujan, tetapi Cara Hujan Itu Turun<\/h2>\n\n\n\n<p>Kalau mau dibuat sederhana, banjir terjadi saat air yang datang lebih besar daripada kemampuan wilayah untuk menanganinya. Air datang dari langit, lalu mencari jalan. Masuk ke tanah, ke selokan, ke drainase, ke sungai, ke rawa, ke kolam, ke laut. Kalau semua jalur itu cukup, banjir bisa diredam. Kalau tidak cukup, air akan mencari tempatnya sendiri. Biasanya: rumah, jalan, sawah, sekolah, pasar.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya, yang sering berubah bukan hanya jumlah hujan, tetapi cara hujan turun. Hujan yang turun perlahan masih memberi kesempatan pada tanah untuk menyerap. Tetapi hujan yang sangat deras dalam waktu singkat akan lebih banyak berubah menjadi limpasan. Air tidak sempat meresap. Ia langsung lari di permukaan.<\/p>\n\n\n\n<p>IPCC memasukkan hujan lebat, <a href=\"https:\/\/hidrologi.net\/kamus\/banjir\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"banjir\">banjir<\/a> lokal akibat hujan, banjir sungai, dan kejadian majemuk atau compound events sebagai bagian penting dari ekstrem iklim yang perlu dinilai. Sederhananya, ketika kejadian-kejadian ini saling bertemu, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada jika masing-masing terjadi sendiri-sendiri.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang dimaksud Perubahan Iklim?<\/h2>\n\n\n\n<p>Banyak orang mengira perubahan iklim hanya berarti udara makin panas. Padahal pengaruhnya lebih luas. Perubahan iklim berarti pola cuaca jangka panjang ikut bergeser. Bukan hanya suhu, tetapi juga pola hujan, musim, kejadian ekstrem, dan pada wilayah pesisir, interaksi dengan kenaikan muka laut. Karena itu, ketika kita bicara banjir hari ini, kita tidak cukup hanya bertanya \u201cberapa milimeter hujannya\u201d, tetapi juga \u201capakah pola hujannya masih sama seperti dulu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>BMKG sendiri sudah menyediakan proyeksi perubahan curah hujan Indonesia berbasis <a href=\"https:\/\/wcrp-cmip.org\/cmip-phases\/cmip6\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"\">CMIP6<\/a> dengan tiga skenario SSP, hasil downscaling 19 model iklim global, dan resolusi 25 x 25 kilometer. Yang diproyeksikan bukan cuma curah hujan tahunan, tetapi juga hal-hal yang jauh lebih dekat dengan urusan banjir: persentil 95, persentil 99, hujan harian maksimum tahunan, sampai hujan kumulatif maksimum 5, 7, dan 10 harian. Itu artinya, perhatian sekarang memang bergeser ke hujan ekstrem, bukan sekadar rata-rata hujan biasa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Banjir Tidak Hanya Urusan Langit<\/h2>\n\n\n\n<p>Di sinilah letak salah paham yang paling sering muncul. Hujan besar memang bisa memicu banjir. Tetapi banjir yang parah biasanya lahir ketika hujan besar bertemu wilayah yang tidak siap.<\/p>\n\n\n\n<p>Kota yang terlalu banyak beton akan lebih cepat mengalirkan air ke jalan dan drainase. Sungai yang dangkal akan lebih cepat meluap. Saluran yang sempit atau tersumbat akan lebih cepat gagal. Daerah resapan yang hilang akan membuat air semakin sedikit yang masuk ke tanah. Dan di kawasan pesisir, masalahnya bisa berlipat karena air dari darat belum tentu mudah keluar saat laut sedang pasang.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi kalimat yang lebih jujur bukan \u201cbanjir terjadi karena hujan deras\u201d. Kalimat yang lebih jujur adalah: banjir terjadi ketika hujan deras bertemu sistem air yang rapuh. Itu sebabnya dua wilayah dengan hujan yang sama belum tentu menderita banjir yang sama.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Banjir Terkini<\/h2>\n\n\n\n<p>Ini bukan teori yang jauh dari kehidupan kita. Kita baru saja melihat contohnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhir November 2025, bencana hidrometeorologi besar melanda beberapa wilayah di Sumatra, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. BMKG kemudian menjelaskan bahwa Siklon Tropis Senyar memicu rekor curah hujan dasarian III November tertinggi sejak 1991 di beberapa lokasi. Di Koto Tangah, Sumatera Barat, curah hujan selama periode bencana disebut mencapai sekitar tiga kali lipat hujan normal November, sedangkan di Singkil Utara, Aceh, sekitar dua kali lipat dari kondisi normalnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Sumatera Barat, dampaknya sangat berat. BPBD Sumbar melaporkan bahwa pada fase awal kejadian, data per 29 November 2025 mencatat 88 orang meninggal, 85 orang hilang, 75.219 orang mengungsi, dan 111.908 orang terdampak. Angka itu penting bukan hanya karena besarnya korban, tetapi karena ia menunjukkan betapa cepatnya hujan ekstrem bisa berubah menjadi krisis kemanusiaan ketika bertemu kondisi wilayah yang rentan.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, belum lama sesudahnya, banjir besar juga terjadi di Demak pada Januari 2026. Dalam rilis resmi Pemkab Demak, kejadian itu dijelaskan sebagai banjir limpasan di sejumlah kecamatan akibat curah hujan tinggi yang diperparah pasang air laut. Di Sayung, sungai disebut tidak mampu menampung debit air dan aliran ke Sungai Dombo terganggu oleh rob. Di Kecamatan Demak, banjir sudah terjadi sejak 6 Januari 2026 akibat curah hujan tinggi, kenaikan debit Sungai Kalijajar, dan tidak berfungsinya pintu air pembuangan. Di Karanganyar, banjir juga dipicu hujan tinggi selama dua hari berturut-turut.<\/p>\n\n\n\n<p>Dua contoh itu mengajarkan hal yang sama: banjir besar hampir selalu lahir dari gabungan faktor. Ada hujan ekstrem. Ada sungai yang kewalahan. Ada drainase yang tidak lancar. Ada pintu air yang tidak optimal. Ada rob. Kadang semuanya datang bersamaan. Itulah mengapa banjir hari ini tidak bisa lagi dibaca dengan cara yang terlalu sederhana.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Mengapa Kota Mudah Sekali Banjir?<\/h2>\n\n\n\n<p>Kota modern sering dibangun seolah-olah air akan selalu patuh. Padahal air tidak pernah benar-benar patuh. Ia hanya mengikuti ruang yang tersedia. Ketika tanah ditutup aspal, halaman dipaving, rawa ditimbun, dan saluran dibiarkan sempit, kota pelan-pelan kehilangan kemampuan untuk bernapas saat hujan datang. Air yang dulu bisa masuk ke tanah, sekarang dipaksa mencari jalan cepat ke drainase. Begitu drainase kalah, jalanan yang mengambil alih.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, solusi banjir di kota tidak cukup hanya \u201cmemperbesar saluran\u201d. Kota juga perlu memberi ruang bagi air: kolam retensi, ruang terbuka hijau, taman resapan, sumur resapan, sempadan sungai yang tidak dipersempit, dan tata ruang yang tidak memusuhi aliran air.<\/p>\n\n\n\n<p>Hulu yang Rusak, Hilir yang Menanggung<\/p>\n\n\n\n<p>Banjir juga tidak selalu dimulai di tempat yang tergenang.<\/p>\n\n\n\n<p>Sering kali masalahnya sudah dimulai jauh di hulu, ketika tutupan lahan menurun, lereng kehilangan daya serap, tanah menjadi cepat jenuh, dan limpasan bergerak makin cepat menuju sungai. Hilir kemudian menerima air dalam jumlah besar pada waktu yang lebih singkat. Sungai belum tentu punya cukup ruang untuk itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, membahas banjir tanpa melihat DAS ibarat membahas demam tanpa mau tahu sumber infeksinya. Yang terlihat memang genangan di kota. Tetapi perjalanan airnya bisa dimulai dari lereng, kebun, bukit, dan anak-anak sungai yang jauh dari pusat keramaian.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Yang Perlu Diubah Bukan Hanya Infrastruktur, tetapi Cara Berpikir<\/h2>\n\n\n\n<p>Kita terlalu sering menunggu banjir datang dulu, baru sibuk. Baru setelah jalan terendam, saluran dibersihkan. Baru setelah sungai meluap, sempadan dipikirkan. Baru setelah kawasan langganan tergenang, orang bertanya apakah drainasenya cukup. Pola seperti itu makin sulit dipertahankan. Sebab iklim tidak sedang memberi kita kemewahan untuk terus bereaksi terlambat.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau hujan ekstrem makin penting diperhatikan, maka perencanaan juga harus berubah. Data hujan historis tetap penting, tetapi tidak cukup dibaca dengan cara lama. Kita perlu melihat tren hujan ekstrem, perubahan penggunaan lahan, kapasitas sungai, kerentanan drainase, dan kesiapan wilayah menghadapi kejadian yang mungkin lebih berat daripada asumsi masa lalu. BMKG sudah menyiapkan pijakan awalnya lewat proyeksi hujan ekstrem berbasis CMIP6; tinggal apakah kita mau memakainya untuk perencanaan yang lebih jujur.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Harus Dilakukan?<\/h2>\n\n\n\n<p>Yang pertama, kita perlu berhenti menganggap banjir sebagai kejadian musiman yang sekadar datang lalu pergi. Di banyak tempat, banjir sudah menjadi sinyal bahwa hubungan antara hujan, ruang, sungai, dan kota tidak lagi seimbang.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang kedua, data harus dibenahi. Data hujan, data sungai, data kejadian banjir, perubahan penggunaan lahan, dan titik rawan harus dibaca sebagai satu cerita, bukan terpisah-pisah.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang ketiga, wilayah harus dibuat lebih siap. Sungai perlu dijaga kapasitasnya. Drainase perlu diperiksa, bukan hanya saat rusak. Daerah resapan harus dipertahankan. Kawasan rawan jangan terus dibebani pembangunan baru. Dan di pesisir, persoalannya harus dibaca sebagai gabungan hujan, sungai, dan laut sekaligus.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang keempat, kita perlu lebih rendah hati pada air. Air selalu mencari ruang. Kalau ruang alaminya kita tutup, ia akan mengambil ruang kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banjir semakin aneh. Ia bisa datang setelah hujan yang terasa \u201cbelum lama-lama amat\u201d. Ia bisa membuat jalan raya berubah jadi sungai kecil. Ia bisa membuat orang bertanya-tanya: kok sekarang air terasa lebih cepat naik? Mungkin karena yang berubah memang bukan cuma kota kita. Bukan cuma sungainya. Bukan cuma salurannya. Yang ikut berubah adalah cara hujan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":15065,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9,69],"class_list":["post-15062","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bencana","tag-banjir","tag-perubahan-iklim"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15062","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15062"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15062\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15063,"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15062\/revisions\/15063"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15065"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15062"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15062"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hidrologi.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15062"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}