Debit puncak adalah nilai tertinggi dari debit aliran yang terjadi selama suatu kejadian hidrologi tertentu, terutama pada saat banjir. Parameter ini sangat penting dalam analisis hidrologi terapan karena sering menjadi dasar dalam perencanaan bangunan pengendali banjir, saluran drainase, jembatan, gorong-gorong, tanggul, kolam retensi, dan berbagai infrastruktur sumber daya air lainnya. Dalam sebuah hidrograf, debit puncak ditunjukkan sebagai titik tertinggi dari kurva aliran terhadap waktu.
Besar debit puncak dipengaruhi oleh intensitas hujan, durasi hujan, distribusi hujan dalam ruang dan waktu, luas DAS, bentuk DAS, kemiringan lereng, jaringan sungai, penggunaan lahan, serta kapasitas infiltrasi tanah. DAS yang relatif kecil, curam, dan terbangun cenderung menghasilkan debit puncak yang lebih tinggi dan tercapai dalam waktu yang lebih singkat dibanding DAS yang luas, landai, dan berhutan.
Dalam rekayasa hidrologi, debit puncak biasanya dihitung dengan metode tertentu sesuai skala wilayah dan ketersediaan data, misalnya Metode Rasional, hidrograf satuan, HSS sintetis, atau model hujan-limpasan. Pemilihan kala ulang juga sangat penting karena debit puncak yang digunakan untuk desain harus disesuaikan dengan tingkat risiko bangunan. Infrastruktur vital memerlukan dasar debit puncak dengan kala ulang lebih besar dibanding bangunan biasa.
Karena debit puncak menentukan ukuran dan keamanan bangunan air, kesalahan dalam memperkirakannya dapat menyebabkan underdesign maupun overdesign. Oleh sebab itu, analisis debit puncak harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan data hujan, data debit, karakteristik DAS, dan standar teknis yang berlaku.
Keterangan: