Jaringan drainase adalah sistem keterhubungan saluran air yang berfungsi untuk mengumpulkan, menyalurkan, dan membuang kelebihan air dari suatu wilayah menuju titik pembuangan tertentu, seperti sungai utama, danau, waduk, rawa, atau laut. Dalam konteks hidrologi, jaringan drainase mencakup unsur-unsur alami seperti anak sungai, sungai utama, cekungan aliran, serta saluran-saluran buatan seperti drainase perkotaan, saluran irigasi pembuang, parit, gorong-gorong, dan kanal. Keberadaan jaringan drainase sangat menentukan bagaimana air hujan yang jatuh di suatu wilayah akan bergerak, berapa cepat air mencapai outlet, serta seberapa besar potensi timbulnya genangan atau banjir.
Secara hidrologis, jaringan drainase berperan penting dalam membentuk respon suatu DAS terhadap hujan. Wilayah dengan jaringan drainase yang rapat dan terhubung baik cenderung memiliki kemampuan pengaliran yang lebih cepat. Kondisi ini dapat menurunkan lama genangan setempat, tetapi pada saat yang sama dapat meningkatkan kecepatan konsentrasi aliran ke hilir dan memperbesar debit puncak. Sebaliknya, jaringan drainase yang tidak berkembang, tersumbat, atau tidak terintegrasi akan memperlambat pengaliran, menimbulkan tampungan lokal, dan meningkatkan peluang terjadinya genangan berkepanjangan.
Dalam analisis hidrologi, jaringan drainase sering dikaji melalui parameter seperti pola drainase, kerapatan drainase, panjang total saluran, tingkat percabangan, kemiringan dasar saluran, kapasitas penampang, serta kondisi bangunan pelengkap. Pola drainase dapat berbentuk dendritik, radial, trellis, paralel, atau rektangular, yang masing-masing mencerminkan kondisi geologi, topografi, dan perkembangan morfologi wilayah. Kerapatan drainase, yang umumnya dinyatakan sebagai perbandingan antara panjang total saluran terhadap luas DAS, menunjukkan tingkat pengembangan sistem pengaliran alami suatu daerah. Nilai kerapatan drainase yang tinggi biasanya menunjukkan limpasan permukaan yang dominan, infiltrasi yang relatif rendah, atau relief topografi yang mendukung pembentukan banyak saluran.
Dalam perencanaan teknik, jaringan drainase tidak hanya dipahami sebagai kumpulan saluran, tetapi sebagai sistem tata air yang harus dianalisis secara menyeluruh. Perubahan tata guna lahan, urbanisasi, penutupan permukaan tanah, sedimentasi, sampah, serta penyempitan saluran dapat mengubah kinerja jaringan drainase secara signifikan. Oleh karena itu, evaluasi jaringan drainase harus mempertimbangkan hubungan antara hulu dan hilir, kapasitas penampang saluran, elevasi kontrol, kondisi bangunan pelintas, serta sinkronisasi dengan sistem sungai penerima.
Pada kawasan perkotaan, jaringan drainase mempunyai fungsi vital dalam pengendalian banjir lokal. Pada kawasan pertanian, jaringan drainase berfungsi menjaga keseimbangan lengas tanah dan membuang kelebihan air agar tanaman tidak tergenang. Pada kawasan rawa atau dataran rendah, jaringan drainase sering kali harus dipadukan dengan sistem pintu air, pompa, dan kolam retensi. Dengan demikian, jaringan drainase merupakan elemen penting dalam manajemen sumber daya air karena mempengaruhi distribusi limpasan, keamanan wilayah terhadap banjir, dan keberlanjutan fungsi lahan.